Selasa, 26 Oktober 2010

Santri dan Pesantren Dalam Lintasan Sejarah

Diskursus tentang pesantren maka yang terlintas dalam pikiran kita tentang berbagai komponennya, yakni kiai (ulama), santri (murid), pondok atau asrama, berbagai Kitab Kuning (al-kutub ash-shafrd'), dan tradisi-tradisi yang berlaku di dalamnya, seperti mengaji dengan sistem halaqah (tanpa mengenal kelas), sorogan, dan bandungan sebagai metode pengajaran
M. Arnin Abdullah mendeskripsikan bahwa, dalam berbagai variasinya, dunia pesantren merupakan pusat persemaian, pengamalan, dan sekaligus penyebaran ilmu-ilmu keislaman. Terlepas dari pertanyaan ihwal apakah lembaga pesantren merupakan karya budaya asli (indigeneous) Indonesia ataukah model kelembagaan Islam yang diimpor dari Mesir sebagaimana diisyaratkan oleh Martin van Bruinessen, yang jelas adalah bahwa pesantren pada awalnya lahir sebagai manifestasi dari bertemunya dua kemauan: semangat orang yang ingin menimba ilmu (santri) sebagai bekal hidupnya dan keikhlasan orang yang ingin mengamalkan ilmu dan pengalamannya kepada ummat, yakni kiai (Jawa), ajengan (Sunda), tengku (Aceh), syaikh (Jambi dan Sumatera Utara), dan sebutan-sebutan lain yang senada dan semakna. Secara fisik, wujud awal pesantren adalah sebuah tempat sholat (mushalla/langgar) yang biasa disebut oleh masyarakat Jawa dengan tajug atau langgar. Selain digunakan untuk salat berjamaah, tempat ini juga dimanfaatkan untuk tempat mengaji ilmu-ilmu keislaman berupa penguasaan bacaan dan tafsir Alquran, dan selanjutnya berkembang menuju kajian atas berbagai Kitab Kuning. Karena semakin bertambahnya santri yang menuntut ilmu, mushalla yang kecil itu diperluas dan akhirnya berubah status menjadi masjid. Tempat ini kemudian bertambah fungsi selain sebagai tempat sholat lima waktu dan berbagai aktivitas santri, juga sebagai tempat menunaikan ibadah sholat Jum’at.
Komunitas santri juga mengalami pertumbuhan. Awalnya, status mereka semuanya adalah santri kalong (tanpa menginap). Akan tetapi, karena pertambahan santri semakin hari semakin meningkat dan mereka tidak saja berasal dari daerah sekitar tempat tinggal kiai, yakni dari daerah-daerah yang jauh, maka dibutuhkanlah tempat penginapan. Mulanya, mereka ditempatkan di bagian masjid untuk sementara waktu. Kemudian secara bergotong-royong mereka membuat bilik-bilik yang selanjutnya disebut pondok (bahasa Arab: funduq berarti hotel, tempat menginap ). Akhirnya, jadilah sebuah lembaga yang disebut pondok pesantren. Tambahan kata "pesantren" merupakan kata benda bentukan dari kata santri yang mendapat awalan "pe-" dan akhiran "-an", "pesantrian." Menurut buku Babad Cirebon, "santri" berasal dari kata "chantrik," yang berarti orang yang sedang belajar kepada seorang guru. Kemudian, kata itu diserap ke dalam bahasa Jawa menjadi "santri." Jadilah bentukan kata baru "pesantrian" (orang Jawa mengucapkannya "pesantren"). Dengan demikian, pesantren adalah sebuah tempat di mana para santri menginap dan menuntut ilmu (mathlab.).
Yang penting untuk dicatat di sini adalah penanaman nilai-nilai budaya dan tradisi pesantren yang menjadikan lembaga ini berhasil mencetak insan-insan bermoral (al-akhlaq al-karimah). Ciri dominan yang selalu menjadi acuan prinsipil dari tradisi pesantren adalah tertanamnya ajaran-ajaran yang termanifestasi dalam keikhlasan, ketulusan, kemandirian, kebersahajaan, dan keberanian. Semuanya itu merupakan karakteristik yang diteladankan dalam kehidupan sehari-hari oleh sang kiai kepada para santrinya. Sikap kiai ini melahirkan keseganan tersenditi di kalangan santri untuk bersikap sembrono (su' al-adab) kepada sang kiai. Dari sikap seperti inilah kemudian muncul sikap mengidolakan kiai dan tumbuhlah penghormatan yang kadang berlebihan kepada sang kiai. Perilaku semacam ini pulalah yang dilihat oleh orang luar sebagai sikap paternalistik-feodalistik, yang sebetulnya disebabkan oleh kharisma logis dari perilaku kiai di mata santrinya. (Rmi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Halaman

Mengenai Saya

Foto saya
Malang, Jawa Timur, Indonesia
Al-istiqomah khoirun min 'alfi karomah...

Pengikut

Cari Blog Ini

القيمة الحقيقة للخيل

كلما زادة قرأت عن الخيل اجد فيه عظمة في خلقه وإحيائه للانسان علىالارض٫ ولربما كانت احدى قيمه التي اكتشفها ان فيه حفظ ورفعة لمكانت العرببالاخص حينما ارتبطوا بالخيل العربي الاصيل.

هذا حديث شريف وجدته وفيه قيمة عالية للخيل ومكانته:قال على بن أبي طالب رضي الله عنه: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:)لما أراد الله تعالى أن يخلق الخيل قال للريح الجنوب: إني خالق منك خلقاًفأجعله عزًّ الأوليائي، ومذلة لأعدائي، وحمى لأهل طاعتي، فقالت الريح:أخلق، فقبض منها قبضة فخلق فرساً، فقال له: سميتك فرساً، وخلقتك عربياً،وجعلت الخير معقوداً بناصيتك، والغنائم مَحُوزَة على ظهرك، والعز معكحيثما كنت، آثرتك على غيرك من الدواب، وجعلتك لها سيداً، وعطفت عليكصاحبك، وجعلتك تطير بلا جناح، فأنت للطلب، وأنت للهرب، وسأحمل على ظهركرجالاً يسبحوني ويكبروني ويهللوني، تسبح إذا سبحوا، وتهلل إذا هللوا،وتكبر إذا كبروا، قال: فليس من تسبيحه ولا تكبيرة ولا تهليلة يهللهاصاحبها فيسمعها إلا وتجيبه نمثلها.

ثم قال: فلما سمعت الملائكة صفة الفرسوعاينوا خَلقها، قالت : أيْ ربي! نحن ملائكتك نسبِّحك ونكبرك ونهللكفماذا لنا؟ فخلق الله للملائكة خيلاً بلقا، لها أعناق كأعناق البُخْت،أمدَّ بها من شاء من أنبيائه ورسله، أرسل الفَرَس إلى الأرض واستوت قدماهعليها صهل، فقال: بوركت من دابة! أُذلُّ بصهيلك المشركين، وأرعبُ بهقلوبهم، وأَملأ آذانهم، وأُذلُّ به أعناقهم، ثم لما عَرَض على آدم ما خلقمن شيء فسماه باسمه، وقال له: اختر من خلقي ما شئت، فاختار الفرس، فقالله: اخترتَ عزك وعز ولدك، خالداً ما خلدوا، وباقياً ما بقُوا؛ بركتي عليكوعليهم، ما خلقتُ خلقاً أحب إليّ ومنهم، ثم وسمه بغُرَّة وتحجيل، فصار ذلكمن لدنه

قال مؤلف كتاب الحيوان: الفرس من طبعه الزهو في المشي، ويحب سائسهويعجب راكبه، ولا يحب الأولاد، وهو غيور، ويعرف المصيبة. وذكر الأصمعي أنرجلاً معتوها جاء إلى أبي عمرو بن العلاء، فقال: يا أبا عمرو، لم سميتالخيل خيلاً؟ فبقي أبو عمرو ليس عنده فيها جواب، فقال: لا أدري! الرجل:لكني أدري! فقال علِّمنا نعلم! قال: لاختيالها في المشي، فقال أبو عمرولأصحابه بعد ما ولَّي الرجل: اكتبوا الحكمة وارووها عن معتوه

mengenalkan kepada santri tentang equestrian..:-)

anda bisa telusuri di situs2nya, diantaranya dibawah ini, dan tulisan ini juga dicopas dari situs ini..

sumber: http://q8khail.com/blog/?p=24#more-24